Pos oleh :

forestation.fkt

Darah Biru yang Berharga

Sumber: greenqueen.com.hk

Penulis: Astri Chairunnisa

Adanya pandemi yang datang secara tidak terduga membuat banyak warga kaget sekaligus kebingungan. Pembatasan sosial yang diberlakukan membuat banyak kalangan mengalami penurunan pendapatan, termasuk negara. Pemerintah terus berupaya untuk mengurangi angka kematian, baik dengan pencegahan (3M -masker, mencuci tangan, menjaga jarak) maupun dengan penanggulangan (pembuatan vaksin). Namun, dibalik pembuatan vaksin ternyata ada kejahatan yang terjadi, yakni penyelundupan hewan kepiting tapal kuda secara besar-besaran. read more

Mengenal Lebih Dalam Si Sisik yang Suka Berjemur

Sumber: Ecology Asia (Eutropis multifasciata)

Penulis: Jangker FORESTATION

Kadal (Lacertilia)

Kadal adalah kelompok reptilia bersisik berkaki empat  yang tersebar sangat luas di dunia. Secara ilmiah, kelompok besar ini dikenal sebagai subordo atau anak bangsa Lacertilia yang merupakan anggota dari bangsa reptilia bersisik bersama dengan ular. Kadal pada umumnya bertubuh kecil, padat, bersisik licin dan berkilau, serta hidup di tanah. Kadal pada umumnya memiliki empat kaki, lubang telinga luar, dan kelopak mata yang dapat dibuka-ditutup. Namun, ada pula jenis-jenis yang tidak memiliki sebagian ciri itu. read more

Benarkah PLTA Batang Toru Perampas Habitat Orangutan Tapanuli?

Penulis: Herdwita O.

Pada tahun 2017, seorang peneliti menemukan jenis orangutan baru, yaitu orangutan tapanuli dengan nama ilmiah Pongo tapanuliensis. Orangutan tapanuli ini merupakan spesies orangutan ketiga setelah orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orangutan sumatra (Pongo abelii). Orangutan tapanuli memiliki ciri rambut tebal yang berwarna seperti kayu manis, berbeda dengan warna rambut orangutan kalimantan yang coklat gelap dan orangutan sumatra yang berwarna coklat kemerahan. Selain itu, rambutnya merupakan yang paling panjang dan pirang di antara tiga spesies tersebut. Namun, populasinya yang tidak sampai 800 ekor membuat spesies ini termasuk dalam kategori hampir punah. read more

Burung Migran yang Hanya Ingin Hidup Tenang

Penulis: KP3 Burung

Sumber: Fariz Ardianto

Bulan September hingga bulan Maret adalah waktu dimana bumi bagian utara mengalami musim dingin. Pada bulan-bulan tersebut, burung di wilayah tersebut akan melakukan perjalanan panjang menuju daerah beriklim tropis —atau biasa disebut migrasi— untuk mencari makan dan tempat tinggal sementara dengan suhu yang hangat. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi tujuan akhir dari burung migran, dan daerah Yogyakarta menjadi tempat tinggal sementara dari burung migran. Beberapa jenis burung yang bermigrasi ke arah Indonesia adalah burung layang-layang asia (Hirundo rustica), jalak cina (Sturnus sturninus), cerek asia (Charadrius veredus), trinil pantai (Actitis hypoleucos), dan elang-alap cina (Accipiter soloensis). read more

Burung Bangau Hampir Punah?

Sumber: mongabay.co.id

Penulis: Arnoviananda

Indonesia merupakan habitat bagi beragam jenis burung, bahkan Indonesia bagian timur dijuluki sebagai surga burung. Berdasarkan data Burung Indonesia tahun 2014, Indonesia merupakan rumah bagi 1.666 jenis burung, dengan 426 di antaranya merupakan burung endemik. Namun, kekayaan yang kita miliki berangsur-angsur berkurang karena berdasarkan sebuah studi komprehensif berjudul “Market for Extinction: An Inventory of Jakarta’s Bird Markets”, Indonesia dinyatakan sebagai negara yang paling banyak memiliki jumlah burung terancam punah di Asia. Hal ini didukung dengan data yang didapat dari Burung Indonesia tahun 2014, yang menunjukkan bahwa sejumlah 136 burung di Indonesia berstatus terancam punah. read more

Sunda Flying Lemur (Galeopterus variegatus) / Kubung Sunda

Sumber: Dok. FORESTATION

Penulis: KP3 Primata

Kubung sunda merupakan salah satu mamalia paralayang terbesar, yang memiliki kulit membran/selaput yang cocok untuk meluncur. Dengan selaputnya ini, seekor kubung mampu meluncur dan melayang dari pohon satu ke pohon yang lain hingga sejauh 110 m. Selaput peluncur (patagium) ini digunakan sebagai kamuflase dengan substrat yang dia hinggapi, yang menyerupai kulit kayu dan batang pohon sehingga dapat memberikan perlindungan dari pemangsa. Satwa ini merupakan satwa arboreal yang beraktivitas di malam hari dan sebagian besar memakan daun (herbivora). Selain memakan daun, ia juga memakan bunga, tunas, buah, dan getah sehingga dapat membantu penyebaran benih serta penyerbukan bunga. Kubung sunda tersebar luas di Asia Tenggara, yang meliputi Penisular Malaysia, Sabah, Serawak, Singapura, Burma, Thailand, Vietnam Selatan, dan Indonesia. Di wilayah Jawa tercatat kehadiran kubung sunda di Jawa Barat (Cagar Alam Pangandaran), Jawa Timur (Taman Nasional Meru Betiri), dan Jawa Tengah (Hutan Kemuning, Temanggung). Kubung sunda memiliki nama banyak lokal seperti kubung melayu, walangkekes, kendung dan panggilan lainnya. read more