KP3 Primata

Primata

KP3 Pimata adalah kelompok studi yang bergelut mengenai segala yang berkaitan dengan primata. Baik penelitian, pengamatan atau memperhatikan isu-isu terkini mengenai primata. Biasanya sebelum melakukan penelitian dan pengamatan, diadakan pematerian ruang yang akan memberikan pemahaman sebelum melakukan penelitian dan pengamatan di lapangan. 


Pengamatan Perilaku Primata Gembira Loka Zoo

1

Anggota yang ikut serta pengamatan di Gembira Loka Zoo

Yogyakarta – Pada tanggal 6 Oktober 2018 lalu kami mengunjungi kebun binatang Gembira Loka. Kami berangkat menuju lokasi di siang hari pukul 13.00 WIB. Tujuan kami mengunjungi kebun binatang Gembira Loka yaitu mencoba menerapkan metode pengambilan data perilaku primata yang telah dipelajari pada pematerian ruang di minggu sebelumnya. Pengamatan dilakukan pada satu individu primata (focal animal sampling) dengan pencatatan perilaku menurut interval waktu yang telah ditentukan sebelumnya (instataneous sampling). Dalam pengamatan perilaku terdapat unit perilaku yaitu state yang merupakan perilaku individual atau grup yang berlangsung lama (jenis perilaku yang dapat dihitung durasinya/ongoing), lalu event yang merupakan perilaku yang tidak dapat dihitung durasi (hanya dapat dihitung kali kejadian/momentary) (Sackett, 1978), dan bouts yang merupakan kejadian repetitif dari perilaku yang sama (dapat dipisahkan berdasar perilaku dan interval kejadian) (Heiligenberg, 1965; Mulligan 1963).

2     3

Simpanse (Pan troglodytes)                               Lutung Budeng/Jawa (Trachypithecus auratus)

4     5

Owa Kalimantan (Hylobates muelleri)            Bekantan (Nasalis larvatus)

Pengamatan kali ini kami dibagi menjadi tiga kelompok yang mengamati primata besar yaitu orangutan, simpanse dan primata kecil yaitu bekantan. Interval waktu pencatatan digunakan waktu 5 menit tiap perilaku yang teramati selama 30 menit. Dengan pengamatan di siang hari kami melihat bahwa bekantan lebih sering aktif bergerak dibanding primata besar. Pengamatan perilaku primata dilakukan di kebun binatang memudahkan kami untuk fokus terhadap objek pengamatan, dibandingkan di hutan. Selain kami melakukan pengamatan perilaku, kami juga mengenal jenis-jenis primata disini. Kelompok primata besar yang ada disini yaitu ada orangutan (Pongo pygmaeus) dan simpanse (Pan troglodytes), sedangkan kelompok primata kecil disini yaitu Lutung budeng/Jawa (Trachypithecus auratus), lutung simpai putih (Presbytis mitrata), owa Kalimantan (Hylobates muelleri), dan bekantan (Nasalis larvatus). Dengan pengamatan kali ini diharapkan anggota-anggota KP3 Primata dapat lebih mengenal jenis dan dapat menerapkan metode pengambilan data perilaku primata dengan benar untuk penelitian.

 

Sumber:

Lehner, P. 1998. Handbook of Ethological Method, Second Edition. Cambridge University Press. England: Cambridge.

Sackett, G.P. 1978. Observing Behavior (Vol. 2): Data Collection and Analysis Methods. Baltimore: University of Park Press.


Pygma : Ceritaku Untuk Dunia

Oleh : Ryan Prihantoro

PYGMA

Aku Pygma, seekor Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang sedang tumbuh dan berkembang. Namun, aku juga tidak terlalu paham bagaimana ibukku dahulu. Sebab setelah aku lahir, hidupku menyendiri tanpa asuhan dan kasih sayang. Rumah tempatku bermain telah berganti dengan tanah lapang, di beberapa tempat hanya ada bekas tebangan pohon yang tak bisa untukku belajar berayun dengan bebas, yang lainnya hanyalah kayu-kayu bekas terbakar. Saatku bermain terlalu jauh, hanyalah terlihat luasnya sawit (Elais sp.) sepanjang mata memandang, yang mana tak satupun buahnya dapat kumakan. Ya itu rumahku sekarang, dengan tandusnya tanah dan kurangnya air yang bisa kuminum. Sedikit dongeng dari beberapa ibu temanku bahwa oknum (re : manusia) telah bersikap rakus, mereka ambil semua yang ada di rumahku, mengubahnya menjadi perkebunan sawit dan sering memburu kami entah untuk hobi ataupun dengan maksud ekonomi.

Menurut WWF total populasi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)  di Pulau Borneo di wilayah Indonesia maupun Malaysia pada tahun 2004 sekitar 3000 hingga 4500 ribu individu. Orangutan memiliki rambut panjang dan kusut berwana merah gelap kecoklatan dengan warna pada wajah berwarna merah muda, merah, sampai hitam. Perbedaan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus)  dengan saudaranya Orangutan Sumatra (Pongo abelii) adalah pada bantalan pipi dan kantung suara pejantannya di fase dewasa. Pada Orangutan Kalimantan bantalan pipi melebar sehingga keseluruhan wajahnya terlihat bulat, sedangkan Orangutan Sumatera memiliki bentuk wajah yang terlihat oval sebab bantalan pipinya menggelambir, serta bentuk dagunya terlihat lebih panjang. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) banyak ditemukan di hutan dataran rendah dibanding dataran tinggi sebab buah-buahan berukuran besar lebih banyak dihasilkan dari hutan dan lahan gambut di daerah yang juga menjadi daerah jelajah orangutan ini. Tercatat selama 20 tahun terakhir, habitat Orangutan Borneo berkurang paling tidak sekitar 55%. Menurut artikel resmi Mongabay (20/2/2018) 148.000 individu orangutan dari Pulau Kalimantan selama 16 tahun terakhir telah tiada. Lebih detail dikatakan bahwa 63-75% tingkat penurunan orangutan paling tinggi ada di daerah yang mengalami deforestasi atau daerah yang dikonversi menjadi perkebunan di Kalimantan dan di Sabah, Malaysia. Namun menariknya hampir tidak ada hutan tanaman industri dan kawasan penggundulan hutan di wilayah orangutan di Sarawak, Malaysia. “Orangutan yang ada di Kalimantan dibunuh karena situasi konflik, saat hewan didorong memasuki taman atau perkebunan karena habitat yang telah rusak,” ujar Maria Voight, seorang peneliti Orangutan Kalimantan yang mana jurnalnya diterbitkan oleh Current Biology Maret 2018.

 Begitulah kisahku yang sendu nan haru, seakan aku hidup dalam kenistaan dengan alur hidup yang tak pernah diharapkan. Hei kalian (re : manusia), bukankah kita bisa hidup bersama, berdampingan, dan saling menjaga? Kami juga perlu disayang, dengan penuh pengharapan untuk hidup yang lebih indah sekarang dan masa depan.

 

Sumber :

WWF Indonesia. 2017. Kenali Lebih Dekat Orangutan di Indonesia. https://www.wwf.or.id/rss.cfm?uNewsID=63143 (diakses 24 September 2018 pukul 20.14 WIB).


Jejak Konservasi Kalitengah

Oleh: Goit Simanullang

 

Kali ini kami melangkah menyusuri Desa Kalitengah, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Wilayah selatan dari kecamatan ini berbatasan langsung dengan kawasan Dataran Tinggi Dieng. Perjalanan dimulai pada Rabu, 22 Agustus 2018, pukul 13.00 WIB kami berangkat menuju Desa Kalitengah. Setelah menempuh 5 jam perjalanan kami disambut dengan udara dingin dan senyuman hangat anak-anak di desa. Beberapa hari kedepan kami akan tinggal di rumah kepala desa dan rumah salah satu warga disana. Malamnya kami melakukan briefing untuk pengamatan esok harinya sesuai dengan KP3 masing-masing. Pukul 07.00 kami pun berangkat ke salah satu curug yang letaknya tidak jauh dari Desa Kalitengah, yaitu Curug Sibiting. Di sana kami melihat 6 ekor lutung dalam satu kelompok serta mendengar suara burung Rangkong (Julang). Lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Dukuh Kaliurang, melewati rumah warga, kebun, sungai, jembatan, hutan tanaman damar dan pinus, tebing, hingga terus ke dalam hutan. Susur sungai pun tak lupa kami lakukan. Pada perjalanan kali ini kami tak menemukan primata, tapi kami bertemu dengan 3 ekor Elang Jawa yang sedang terbang rendah. Kami pun pulang karena rintik hujan sudah datang menghampiri.

Pada malam harinya kami mengadakan evaluasi, menyampaikan apa saja yang didapatkan hari itu, serta briefing untuk keesokan harinya. Pukul 07.30, kami berangkat menuju Curug Lojahan. Kami menyusuri jalan setapak. Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan Rangkong yang terbang di atas kami. Untuk menuju Curug Lojahan, terdapat 3 pos peristirahatan. Di pos pertama kami mendengar suara Owa Jawa dari 3 arah yang berbeda. Kemudian kami menuju suara tersebut sembari melanjutkan perjalanan lagi. Namun suaranya perlahan menghilang.

Sore harinya kami menuju Curug Sigenting yang jaraknya jauh dari Curug Lojahan. Untuk menghemat waktu kami menggunakan sepeda motor kemudian berjalan kaki menyusuri jalan menuju curug. Jalan menuju curug masih jalan berbatu sehingga kami perlu berhati-hati untuk menuju kesana. Sayangnya di curug tersebut kami tidak menemukan primata. Kemudian kami memutuskan untuk kembali ke basecamp. Sama seperti malam sebelumnya, kami menyampaikan hasil yang didapatkan pada pengamatan kami, kemudian dilanjutkan dengan briefing untuk pendidikan lingkungan yang akan dilakukan di dua SD yang ada di Desa Kalitengah, yakni SD Kalitengah dan SD Kembanglangit.

Keesokan harinya kami menuju ke sekolah yang sebelumnya sudah dibagi. Saya berkesempatan untuk mengajar pendidikan lingkungan di SD Kembanglangit. Di sana kami berbagi pengalaman dan mengajarkan adik-adik untuk menjaga lingkungan. Tak lupa lagu “Rimbawan Kecil” dinyanyikan, disusul dengan lomba cerdas cermat serta meminta mereka untuk menggambarkan cita-citanya di atas kertas. Mereka tampak antusias dan bersemangat dengan kedatangan kami. Sore harinya kami melanjutkan kegiatan bersih-bersih di sekitar curug serta mengumpulkan sampah sepanjang jalan menuju curug. Pada malam harinya kami melakukan sarasehan bersama warga sekitar termasuk kepala desa, LMDH, serta pihak Perhutani. Kami memaparkan hasil pengamatan yang telah kami lakukan. Tak hanya berdiskusi tentang satwa, kami juga berdiskusi megenai potensi wisata, serta potensi-potensi lainnya.

Pagi hari pun tiba, kami berkemas, merapikan rumah kepala desa yang menjadi basecamp, lalu berpamitan kepada bapak kepala desa dan ibu yang telah mengizinkan kami untuk singgah di rumahnya. Tak lupa kami pun berpamitan kepada adik-adik kecil yang menjadikan Desa Kalitengah tetap menjadi tempat terhangat walaupun suhunya dingin. Minggu, 26 Agustus 2018, kami kembali ke Yogyakarta.

Kalitengah punya cerita tersendiri, membuat orang yang mengunjunginya ingin kembali dan bercengkerama di lingkungan hangan berudara dingin ini.


Pelatihan Metode Strip Transect

Yogyakarta—pada 20 April 2018, pelatihan metode strip transect dilakukan oleh KP3 Primata di Arboretum Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Kegiatan ini dipandu oleh koor KP3 Primata, Windari Vikka, dan diikuti oleh anggota KP3 Primata. Pelatihan dilakukan dengan membuat transek sepanjang 100 meter dengan lebar 25 meter ke arah kanan dan kiri garis transek. Penggunaan metode strip transect dalam pelatihan ini dilakukan untuk mengamati semua satwa yang ditemui. Data yang diambil berupa koordinat ditemukannya satwa, jarak dari garis transek ke satwa, dan data tambahan seperti habitat satwa. Hasil dari pelatihan ini adalah ditemukannya beberapa satwa seperti burung cangak dan tupai. Setelah pelatihan di lapangan, dilakukan evaluasi mengenai penggunaan metode dan pembahasan lebih lengkap mengenai metode strip transect serta beberapa penggunaan metode lainnya.

  2018-04-20 11.10.52 2Pemraktikkan metode strip transect di Arboretum Fakultas Kehutanan UGM

2018-04-20 11.10.54 1

Pengukuran jarak dari garis transek ke tempat ditemukannya satwa

2018-04-20 11.10.55 1

Evaluasi setelah praktik metode di lapangan


Berkunjung ke Rumah Owa Jawa di Hutan Citalahab

Bogor—pada tanggal 23 Januari 2018, lima anggota KP3 Primata mendapatkan kesempatan berkunjung ke Hutan Citalahab yang berada dalam Kawasan Taman Nasional Halimun Salak untuk melakukan pengamatan Owa Jawa. Kegiatan pengamatan dilakukan di wilayah penelitian Javan Gibbon Research and Conservation Project (JGRCP). JGRCP merupakan suatu proyek yang diprakarasai oleh Ewha Womans University, Korea Selatan untuk mempelajari perilaku dan ekologi dari Owa Jawa. JGRCP mempunyai tiga kelompok Owa Jawa yang rutin diamati perilakunya, yakni kelompok A, B, dan S. Pada kesempatan ini, KP3 Primata diberikan kesempatan untuk mengamati Kelompok A, keluarga Owa Jawa yang terdiri dari Aris (bapak), Ayu (ibu), Amore (anak), dan Awan (anak).

Pengamatan dilakukan dengan didampingi oleh Rahayu Oktaviani (Mbak Ayu), selaku koordinator JGRCP dan tiga asisten peneliti yaitu Kang Isra, Kang Sahri, dan Kang Iyan. Namun, menurut para asisten peneliti menyatakan bahwa sudah dua minggu mereka tidak dapat menemukan keberadaan kelompok A karena cuaca yang tidak mendukung. Selama pengamatan, selain ditemukan Kelompok A, ditemukan juga Surli dan Lutung Jawa

Kelompok KP3 Primata mengamati Owa Jawa dari jarak yang sangat dekat tanpa khawatir mereka lari bersembunyi ketika melihat kelompok pengamat. Owa Jawa yang tergabung dalam Kelompok A ini memang sudah dihabituasi oleh para peneliti JGRCP untuk memudahkan pengamatan. Habituasi ini membuat Owa Jawa menjadi terbiasa dengan keberadaan manusia.

Pengamatan perilaku dilakukan dengan mengikuti pergerakan masing-masing individu. Tingkah laku setiap individu mulai dari foraging hingga interaksi sosial yang mereka lakukan dicatat dalam interval waktu tertentu. Identifikasi pohon juga dilakukan untuk mengetahui jenis pakan yang dimakan oleh Owa Jawa tersebut.

primata

Anggota KP3 Primata yang mengikuti pengamatan

332198

Pengamatan Owa Jawa di Hutan Citalahab

 


Pelatihan Metode Survei Primata 2017

Pelatihan Metode Survei Primata merupakan acara tahunan yang sudah dilaksanakan lima kali oleh SwaraOwa dan bekerja sama dengan KP3 Primata Forestation UGM yang ditujukan bagi para pegiat konservasi terutama konservasi primata. Pelatihan ini diselenggarakan pada tanggal 13-15 Oktober 2017 di Dusun Sokokembang, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan. Peserta yang hadir pada pelatihan ini beragam, antara lain mahasiswa se-DIY dan Jawa Tengah, BKSDA, Perhutani, Komunitas yang bergerak di bidang konservasi, dan LMDH ( Lembaga Masyarakat Desa Hutan).

Materi-materi yang disampaikan oleh pihak SwaraOwa dan tamu undangan ini selanjutnya dipraktikkan di lapangan agar peserta dapat merasakan langsung aplikasinya dan dilanjutkan dengan analisa data yang didapatkan. Pada hari pertama, 13 Oktober 2017 dibahas mengenai metode pengamatan line transect yang diberikan oleh Arif Setiawan atau yang lebih dikenal dengan mas Wawan. Pada hari kedua, 14 Oktober 2017 pukul 07.00 WIB mulai dipraktikan metode line transect yang sudah disampaikan sebelumnya. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dengan jumlah kurang lebih 10 orang yang sebenarnya tidak sesuai dengan syarat pengamatan dengan metode ini (hanya diperlukan dua orang). Praktik metode line transect ini menghasilkan jumlah individu spesies owa jawa dan lutung jawa. Setelah itu, pelatihan dilanjutkan dengan menganalisis hasil. Analisis hasil ini merupakan akhir dari materi pertama.

mts primataPraktik metode pengamatan di lapangan

Masih di hari kedua, sekitar pukul 16.00 WIB dilakukan pematerian kedua dan sharing pengalaman dari beberapa pembicara. Adapun pembicara pertama adalah Mbak Rahayu Oktaviani yang bekerja di Javan Gibbon Research and Conservation Project. Mbak Ayu menjelaskan proyek tersebut berlokasi di Citalahab dan fokus terhadap Owa Jawa dan ekologinya. Kegiatan yang dilakukan berupa monitoring Owa Jawa, mengukur suhu dan presipitasi, phenology, dan edukasi konservasi yang dilaksanakan setiap selasa. Pematerian berlanjut hingga pukul 17.00 WIB dengan sharing tentang konservasi Orangutan yang disampaikan oleh Mbak Nur Aoliya selaku koordinator kebersihan kandang di Yayasan Jejak Pulang. Sharing ini berkaitan dengan rehabilitasi orangutan yang berada di Kalimantan Timur. Yayasan Jejak Pulang adalah salah satu pusat rehabilitasi orangutan yang ada di Kalimantan yang tidak hanya melakukan rehabilitasi secara fisik tetapi juga secara psikologis. Tidak hanya itu, yayasan ini mempunyai motto “Mengorangutankan manusia, bukan memanusiakan orangutan”. Dalam kegiatan sharing ini juga dijelaskan tentang cara dan tahapan dalam rehabilitasi orang utan. Materi ketiga dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB yang disampaikan oleh Andie Ang. Andie adalah peneliti primata dari Singapura yang berfokus terhadap Raffles Banded Langur atau sering disebut “surilinya Singapura”. Di dalam pematerian ini dijelaskan tentang Feeding Ecology yang diambil melalui DNA yang dikenal dengan Diet Metabarcoding. Andie menjelaskan bahwa penelitian pakan primata bisa dilakukan melalui analisis feses primata, sehingga di metode ini feses menjadi hal penting dan data utama yang dapat menyajikan DNA dari jenis-jenis pakan primata dan berguna untuk manajemen konservasi primata tersebut. Setelah pematerian dari Andie, dilanjutkan dengan pematerian metode Point Count-Triangulation Vocal Count yang dipandu oleh Mas Wawan. Metode ini biasa dilakukan pada hewan yang mempunyai perilaku yang bersuara yang khas, seperti Owa Jawa. Dalam metode ini merupakan perpaduan antara Vocal Count dengan Triangulasi. Triangulasi adalah sistem spasial yang digunakan untuk memverifikasi lokasi distribusi kelompok. Pematerian mengenai metode ini kemudian dipraktikkan keesokan harinya dan dimulai dari pukul 06.00 WIB.

mbak ayu

Pematerian oleh Rahayu Oktaviani

andie

Pematerian oleh Andie Ang

Pada hari ketiga, 15 Oktober 2017, peserta mempraktikkan metode vocal count. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan menuju ke lokasi masing-masing pada pukul 6 pagi. Pemilihan waktu ini dilakukan agar peserta sudah tiba di lokasi pengamatan sebelum Owa Jawa melakukan morning call. Syarat pemilihan lokasi untuk mendengarkan suara yaitu jauh dari gangguan suara lain seperti suara sungai dan kendaraan agar suara owa terdengar jelas. Selama perjalanan menuju ke lokasi yang jauh dari gangguan suara, owa jawa sudah mulai bersuara, pagi ini suara owa lebih banyak terdengar dibandingkan hari sebelumnya. Data yang diambil dari pengamatan dengan metode ini antara lain perkiraan arah datangnya suara owa (dalam bentuk sudut dari kompas), jarak owa yang bersuara, jumlah individu yang bersuara, serta berkoordinasi dengan kelompok lain apakah mendengar suara yang sama. Metode ini dipraktikkan sampai pukul 09.00 WIB. Setelah itu, data dianalisis dan dipandu oleh Mas Wawan. Analisis dilakukan dengan menggabungkan semua data arah Owa Jawa bersuara dari tiga lokasi pengamatan berbeda dan dicari titik perpotongannya. Titik perpotongan itu diasumsikan sebagai lokasi Owa Jawa yang bersuara. Analisis data vocal count menjadi acara penutup kegiatan Pelatihan Metode Survei Primata.

Kegiatan pelatihan ini terbilang padat karena mempraktikkan tiga metode pangambilan data primata dalam waktu dua hari. Pihak SwaraOwa mengharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat memotivasi generasi muda untuk menjadi peneliti ataupun pegiat konservasi terutama dibidang primata dan juga diharapkan dapat memberikan sosialisasi mengenai primata untuk peserta non-mahasiswa lainnya.

ada gue

msp

Foto bersama pembicara dan peserta Metode Survei Primata


Pengenalan#1 tentang Primata Secara Umum

Yogyakarta—Pada tanggal 30 Agustus 2017 di Ruang 3 Gedung A Fakultas Kehutanan UGM,  diadakan Pengenalan #1 tentang Primata Secara Umum yang berisi tentang karakteristik primata, distribusi primata, jenis-jenis primata di dunia, konservasi primata melalui penelitian dan juga membahas sedikit tentang Ethnoprimatology. Pengenalan ini tidak hanya ditargetkan untuk anggota baru KP3 Primata, tetapi terbuka untuk umum. Acara ini dimulai pukul 15.30 WIB dan yang dihadiri oleh anggota KP3 Primata sebanyak 24 orang, Mbak Ike dari Fakultas Biologi, dan satu orang dari STTL. Pengenalan ini disampaikan oleh Wendy M, Erb yang merupakan peneliti primata yang berasal dari Amerika Serikat. Sekarang ini, Wendy sedang fokus dengan penelitian orangutan di Kalimantan.

p1Presentasi tentang primata oleh Wendy

Menurut penjelasan Wendy, bahwa karakteristik primata antara lain kaki dan tangan bisa menggenggam, kuku dan cakar kurang tebal, mocong lebih pendek, penciuman berkurang, memiliki kehamilan yang lebih panjang daripada mamalia lain, stereoskopik, dan lain-lain. Dijelaskan pula mengenai ciri-ciri khusus dari masing-masing jenis primata yang ada. Wendy juga berharap bahwa semakin banyak yang peduli terhadap primata dan memulai penelitian tentang primata demi menjaga keberadaan primata.

p2Pembagian jenis-jenis primata

Setelah dilakukan pematerian selama kurang lebih 2 jam dilakukan sesi tanya-jawab. Dalam sesi ini cukup mengasyikkan karena cukup banyak peserta yang bertanya dan memilki keingintahuan yang tinggi tentang primata.p3

Foto bersama anggota KP3 Primata dengan Wendy


KP3 Primata Melihat Kukang di Kemuning!

Kemuning—Pada tanggal 9 dan 10 September 2017, KP3 Primata berkesempatan mendatangi Kemuning untuk melihat kukang jawa di lokasi pengambilan data skripsi Koordinator KP3 Primata 2015 (Tungga Dewi). Pengamatan kukang di Kemuning diikuti oleh Sembilan orang dari KP3 Primata dan peneliti primata asal Amerika Serikat yaitu Wendy M. Erb. Menurut penelitian yang pernah dilakukan bahwa terdapat 8 kukang yang hidup di hutan tersebut. Hutan Kemuning ini sebagian besar diisi oleh tanaman kopi yang dirawat dengan baik oleh para masyarakat.

p4

Anggota KP3 Primata bersama denagn Wendy M. Erb

Perjalanan dari Yogyakarta menuju Kemuning memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor roda dua. Setelah sampai di Kemuning, rombongan istirahat sebentar kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pengambilan data perilaku kukang jawa, lalu cara mengidentifikasi jenis perilaku yang dilakukan dengan mempelajari etogram perilaku yang dibuat oleh Anna Nekaris. Pukul 19.30 WIB dilakukan pengamatan kukang karena nokturnal. Pengamatan tersebut dibagi menjadi tiga kelompok kecil agar tidak berisik dan dapat menjelajahi semua plot yang ada.

p5

Pengamatan kukang

Setelah melakukan pernjalanan kurang lebih setengah jam, ditemukan kukang jawa yang dikenal dengan nama Eni, karena telah menemukan satu jenis kukang maka akan dilakukan pengamatan perilaku hingga pukul 04.00 WIB dimana adalah waktu tidur mereka.  Setelah melakukan pengamatan terhadap Eni, ternyata ditemukan kukang lagi yang dikenal dengan Mahfut.  Daerah hutan Kemuning ini, kukang jawa telah diberikan nama sesuai dengan lokasi ditemukannya sehingga lebih mudah dalam mengidentifikasi.

Keesokan harinya, pada pukul 08.00 WIB rombongan bergegas kembali ke Yogyakarta. Anggota KP3 Primata sangat bersemangat saat menemukan kukang jawa, Wendy pun tidak kalah semangatnya karena ini pertama kalinya beliau melihat kukang jawa secara langsung di habitatnya. Keberadaan kukang saat ini telah semakin terancam apalagi semakin banyaknya konversi lahan di habitat aslinya, oleh karena itu dengan danya pengamatan ini diharapkan para anggota lebih memahami tentang kukang jawa dan dapat melestarikannya.