Pos oleh :

forestation.fkt

Rilis Buletin Akasia Vol.XVII

Selamat datang di Edisi XVII Majalah Akasia dengan tema Awakening!

Awakening memiliki makna “Kesadaran”, yang mengajak kita untuk senantiasa peka terhadap pentingnya menjaga alam dan lingkungan sekitar agar tetap lestari hingga masa mendatang. Harapan kami “Awakening” sebagai pengingat bahwa konservasi merupakan hal yang sangat penting dan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil.

Jika kalian ingin membaca lebih banyak, Buletin Akasia Volume 17 bisa diakses melalui link di bawah ini! read more

Petualangan Hebat Jelajah Konservasi 2025


Selamat Datang di Petualangan Hebat Jelajah Konservasi 2025

Jelajah Konservasi di Baluran dan Bangsring Underwater mengajak pembaca menyusuri dua wajah konservasi Jawa Timur yang berbeda namun saling melengkapi: savana Baluran yang kering dan liar, serta laut Bangsring yang hidup dan penuh warna. Melalui catatan perjalanan yang ringan dan reflektif, buku ini merekam pengalaman menjelajah alam sekaligus melihat dari dekat upaya pelestarian, peran masyarakat lokal, dan tantangan menjaga keseimbangan antara wisata dan konservasi. read more

Rilis Buletin Akasia Vol. XVI

Selamat datang di Edisi XVI Majalah Akasia dengan tema Infinite!

“Infinite” adalah harapan kami untuk alam yang akan datang, dengan berbagai aksi yang berhasil kami lakukan setidaknya mampu mengenalkan konservasi kepada khalayak umum tanpa adanya batasan di dalamnya. INFINITE yang berarti “Tak Terhingga”, hampir menjadi kemustahilan untuk sumber daya yang kita miliki saat ini.

Jika kalian ingin membaca lebih banyak, Buletin Akasia Volume 16 bisa diakses melalui link di bawah ini! read more

Rilis Buletin Akasia Vol. XV

Selamat datang di Edisi XV Majalah Akasia dengan tema Retrospektif!

Dalam edisi spesial kali ini, kita mengajak Sobat Konservasi untuk merenung dan menelusuri perjalanan konservasi nasional maupun dunia selama satu tahun terakhir. Melalui beragam artikel, wawancara, dan laporan khusus, kita akan menyelami peristiwa di masa lalu yang telah membentuk pandangan kita terhadap perjalanan konservasi ke depannya. Retrospektif berarti “Melihat Kembali”. Hal ini dapat diartikan sebagai sebuah ajakan untuk kita bersama-sama menggali pelajaran dari masa lalu demi membangun masa depan yang lebih hijau. read more

METODE SURVEI PRIMATA X

Halo sobat primata!! Tahu gak sih? Tahun ini tepatnya tanggal 22 – 26 November 2023 KP3 Primata bersama SwaraOwa mengadakan pelatihan Metode Survei Primata yang ke-10 di Hutan Sokokembang, Petungkriyono lagi loh. Peserta pelatihan MSP kali ini berasal dari tiga pulau yang berbeda, yaitu Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Jauh sekali bukan? Tujuan dari diadakannya pelatihan ini adalah mengenalkan metode yang biasa digunakan dalam menghitung kepadatan populasi primata, khususnya owa jawa. Selain itu, SwaraOwa dan KP3 Primata mengundang para konservasionis primata yang sudah berpengalaman dari Cloud Mountain Conservation Foundation – China, yaitu Yan Lu yang merupakan peneliti dan konservasionis owa jambul hitam di China. Terdapat dua pembicara lainnya yang berpengalaman dalam penelitian owa jawa, yaitu Salmah Widyastuti (IPB) dan Nur Aoliya (SwaraOwa). Kegiatan dimulai pada malam 22 November 2023, kami semua berkenalan dan menceritakan owa dari daerah masing-masing. Kegiatan malam itu sangat seru karena diiringi dengan canda dan tawa dari panitia dan peserta sebagai awal pertemuan. read more

KISAH KONSERVASI : MENILIK MERBABU DARI SELO

Menepi sejenak dari hiruk pikuk dunia perkuliahan yang sangat menguras energi, mari kita melihat sejenak alam kita yang memanggil dengan segala keindahan dan kekayaan yang ditawarkan. Yap, salah satu jantung keindahan pulau Jawa adalah kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) dimana taman nasional ini merupakan taman nasional yang mencakup kawasan hutan di Gunung Merbabu. Secara administratif, TNGMb ke dalam wilayah 3 (tiga) kabupaten yaitu Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Semarang, provinsi Jawa Tengah. Secara geografis Taman Nasional Gunung Merbabu terletak antara 110º26’22” bujur timur dan 7º27’13” lintang selatan. Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 135/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung dan Taman Wisata Alam pada Kelompok Hutan Merbabu Seluas 5.725 hektare. TNGMb terdiri dari 6 zona yaitu Zona Inti, Zona Rimba, Zona Pemanfaatan, Zona Tradisional, Zona Rehabilitasi, dan Zona Religi & Budaya. Di balik kerennya Taman Nasional Gunung Merbabu, terdapat aksesibilitas yang cukup tinggi. Didukung juga oleh keberadaan daerah enclave didalam kawasan TNGMb yang cukup luas yaitu di Desa Batur, Desa Kopeng, dan Desa Tajuk di Kecamatan Getasan seluas ±283,51 hektare. Sedangkan di Kabupaten Magelang terdapat daerah enclave dengan luasan yang tidak terlalu besar meliputi Desa Kenalan, Desa Kaponan, Desa Ketundan dan Desa Pogalan Kecamatan Pakis dengan luas ±24,01 hektare serta Desa Genikan di Kecamatan Ngablak seluas ± 0.63 hektare. Area enclave di sini meliputi pemukiman dan lahan milik masyarakat yang dijadikan lahan pertanian. read more