Rilis Buletin Akasia Vol. XV

Selamat datang di Edisi XV Majalah Akasia dengan tema Retrospektif!

Dalam edisi spesial kali ini, kita mengajak Sobat Konservasi untuk merenung dan menelusuri perjalanan konservasi nasional maupun dunia selama satu tahun terakhir. Melalui beragam artikel, wawancara, dan laporan khusus, kita akan menyelami peristiwa di masa lalu yang telah membentuk pandangan kita terhadap perjalanan konservasi ke depannya. Retrospektif berarti “Melihat Kembali”. Hal ini dapat diartikan sebagai sebuah ajakan untuk kita bersama-sama menggali pelajaran dari masa lalu demi membangun masa depan yang lebih hijau. read more

METODE SURVEI PRIMATA X

Halo sobat primata!! Tahu gak sih? Tahun ini tepatnya tanggal 22 – 26 November 2023 KP3 Primata bersama SwaraOwa mengadakan pelatihan Metode Survei Primata yang ke-10 di Hutan Sokokembang, Petungkriyono lagi loh. Peserta pelatihan MSP kali ini berasal dari tiga pulau yang berbeda, yaitu Sumatera, Kalimantan, dan Jawa. Jauh sekali bukan? Tujuan dari diadakannya pelatihan ini adalah mengenalkan metode yang biasa digunakan dalam menghitung kepadatan populasi primata, khususnya owa jawa. Selain itu, SwaraOwa dan KP3 Primata mengundang para konservasionis primata yang sudah berpengalaman dari Cloud Mountain Conservation Foundation – China, yaitu Yan Lu yang merupakan peneliti dan konservasionis owa jambul hitam di China. Terdapat dua pembicara lainnya yang berpengalaman dalam penelitian owa jawa, yaitu Salmah Widyastuti (IPB) dan Nur Aoliya (SwaraOwa). Kegiatan dimulai pada malam 22 November 2023, kami semua berkenalan dan menceritakan owa dari daerah masing-masing. Kegiatan malam itu sangat seru karena diiringi dengan canda dan tawa dari panitia dan peserta sebagai awal pertemuan. read more

KISAH KONSERVASI : MENILIK MERBABU DARI SELO

Menepi sejenak dari hiruk pikuk dunia perkuliahan yang sangat menguras energi, mari kita melihat sejenak alam kita yang memanggil dengan segala keindahan dan kekayaan yang ditawarkan. Yap, salah satu jantung keindahan pulau Jawa adalah kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) dimana taman nasional ini merupakan taman nasional yang mencakup kawasan hutan di Gunung Merbabu. Secara administratif, TNGMb ke dalam wilayah 3 (tiga) kabupaten yaitu Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, dan Kabupaten Semarang, provinsi Jawa Tengah. Secara geografis Taman Nasional Gunung Merbabu terletak antara 110º26’22” bujur timur dan 7º27’13” lintang selatan. Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 135/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Lindung dan Taman Wisata Alam pada Kelompok Hutan Merbabu Seluas 5.725 hektare. TNGMb terdiri dari 6 zona yaitu Zona Inti, Zona Rimba, Zona Pemanfaatan, Zona Tradisional, Zona Rehabilitasi, dan Zona Religi & Budaya. Di balik kerennya Taman Nasional Gunung Merbabu, terdapat aksesibilitas yang cukup tinggi. Didukung juga oleh keberadaan daerah enclave didalam kawasan TNGMb yang cukup luas yaitu di Desa Batur, Desa Kopeng, dan Desa Tajuk di Kecamatan Getasan seluas ±283,51 hektare. Sedangkan di Kabupaten Magelang terdapat daerah enclave dengan luasan yang tidak terlalu besar meliputi Desa Kenalan, Desa Kaponan, Desa Ketundan dan Desa Pogalan Kecamatan Pakis dengan luas ±24,01 hektare serta Desa Genikan di Kecamatan Ngablak seluas ± 0.63 hektare. Area enclave di sini meliputi pemukiman dan lahan milik masyarakat yang dijadikan lahan pertanian. read more

BERBAGI CERITA PB 2023

Perjalanan Mengungkap Pesona Tersembunyi di Mlandi 

SEKILAS PENELITIAN BERSAMA 

Penelitian Bersama merupakan kegiatan kolaborasi oleh kelompok studi FORESTATION yang disebut KP3 (Kelompok Pengamat, Peneliti, dan Pemerhati). Kegiatan tersebut berupa penelitian yang berfokus pada lima bidang meliputi Burung, Herpetofauna, Primata, Wetland, dan Ekowisata. Penelitian Bersama 2023 dilaksanakan 7 hari mulai tanggal 2 hingga 8 Juni 2023 dengan hari efektif selama 5 hari di Desa Mlandi, Wonosobo, Jawa Tengah. Tema yang diangkat pada Penelitian Bersama 2023 yakni “Mlanditorium: Menembus Batas Pesona Kaldera Bismo”.  read more

Rilis Buletin AKASIA Vol. XIV

Hai Conservationists!

Apa kabar? Semoga selalu sehat dimanapun kita berada. Buletin Akasia kembali lagi, nih! Kali ini, Buletin Akasia Volume 14 telah hadir dengan tajuk Etnokonservasi dan Karbon Biru.

Konservasi tidak bisa berhasil sepenuhnya tanpa bantuan masyarakat. Upaya konservasi yang sering disebut etnokonservasi ini menunjukkan betapa pentingnya upaya konservasi dengan bantuan masyarakat. Selain itu, upaya konservasi lain yang berdampak besar adalah menjaga kelestarian ekosistem karbon biru. Ekosistem tersebut dapat menyerap karbon sebanyak tiga hingga lima kali lebih banyak dari hutan tropis di daratan. Sehingga, ekosistem ini dapat menjadi salah satu strategi dalam pengurangan karbon penyebab pemanasan global. Tentu saja, dampaknya akan semakin besar apabila dikombinasikan dengan etnokonservasi. read more

Mengenal Hutan Perempuan di Papua

Penulis : Galuh Sekar A.

Gambar oleh : Moch. Fikri diambil dari Econusa.id

Salah satu kawasan hutan bakau atau mangrove di Teluk Youtefa, Kota Jayapura dikenal dengan Hutan Perempuan. Penamaan hutan perempuan ini karena adanya kearifan lokal yang unik dijalankan oleh kampung Enggros dan Tobati yaitu aturan mengenai laki-laki dan perempuan dalam hal berinterekasi sosial dalam kehidupan sehari-harinya yaitu apabila laki-laki berkumpul di para-para atau seperti balai kampung dan bertugas mencari kebutuhan pangan di laut. Sedangkan perempuan berkumpul dan mencari bahan pangan di hutan bakau, apabila ada laki-laki yang masuk dalam hutan bakau tersebut maka akan dikenai dengan sanksi denda (Finaka, 2022). Denda yang diberikan berupa manik-manik dengan terdapat tiga variasi warna yang memiliki nilai denda yang berbeda, untuk manik yang paling tinggi harganya yaitu setara dengan Rp.1.000.000 yang memiliki warna biru. Sedangkan manik berwarna hijau memiliki nilai yang setara Rp. 500.000 dan manik berwarna putih memiliki nilai sekitar Rp. 300.000 (Amindoni, 2021). read more